Kaki menapak pada setapak berlumpur, oleh-oleh dari sang hujan yang menyapa bumi. Tangan mencengkeram batang pohon yang licin dan basah, dan tetes air dari daunnya menitik di lengan baju tergulung. Puncak gunung nampak indah, dalam latar semburat merah matahari merekah.Nafas terhirup dan terhembus, jantung berdegup kencang dalam raga lelah. Namun, semburat merah keemasan sang surya menjadi harapan, tangan kuat yang menarik dan kaki letih yang melangkah, membawa sang pejalan sampai tujuan. Jangan katakan aku kurang kerjaan. Mencari kepuasan bagiku sendiri dan pergi dari kehidupan. Karena justru di pucuk harapan itu, kutemui kehidupan. Kehidupan yang bisa kupandangi, dengan lembah dan gundukan yang kulalui. Di sana kuterkenang, saat kaki terantuk batu dan terjerat sulur dedahanan. Ketika aku bisa berlari dengan nafas lega di jalanan landai, dan merangkak pada tanjakan yang kutemui. Lebih lagi, ketika seperti saat ini, aku ada di pucuk pengharapanku, aku menyadari, rimbunnya hutan, atau atap genteng dunia tidak bisa membatasi aku dari Dia yang membuatku bisa merasakan kehidupan. Di sini, aku berdiri, seakan berhadapan langsung denganNya. Di sini, aku menemui diriku di hadapan penciptaku, tanpa penutup diri, tanpa tameng sembunyi.

Komentar

Postingan Populer