Jumat, November 18, 2011

Mencari rumah hati

Tadi malam, kucari kembali gambaran diri
Dan sungguh gelisah hati ketika tak kunjung kutemui
Seperti tengah terapung pada samudera tanpa dayung
Menunggu diam pada gelombang murah hati
Pada apakah kutujukan semua yg mengalir dari diri ?
Pada pantai manakah akan terserak segala
Akankah ada waktu, ketika semua dapat kucoba tata kembali
Dan bisa kupandangi semata kasih dan kerinduan
Atau terberai dalam hiruk pikuk hati
Pada samudera mana kau berada ?
Agar kukayuh tanganku yg terasa terlalu letih untuk berdaya
Supaya paling tidak, se-inci-pun aku bergerak berada
Biar kucoba sampai benar habis tenaga, tak bersisa...
Iri aku pada kehendak yg membara,
Karena tak mampu kuimbangi serasa kehebatannya
Sebab tubuhku terkulai, diam...
Sementara aku bernyawa dan tertawa...
Tawa air mata....
Jadi, kalaupun hanya sebegitu dayaku,
Kubiarkan kehendakku itu membakarku
Bila memang mesti habis jadiku
Biar jadi lilin leleh tubuhku
Tak berbentuk, habis, pun dibuang
Atau semoga..
Tangan salah satu dari yg melewatiku
Meraupku untuk dilelehkan kembali, disatukan dgn sisa2 yang lain
Dan menjadi sosok yang baru,
Untuk leleh kembali...
Biar....
Aku tak tau pasti....

Senin, Oktober 03, 2011

Tentang Kasih, dari yang sedang mencari maknanya

Jika kaubilang, itu adalah kegembiraan
Ketika secerah mentari terpasang di hati
Aku akan mengangguk dan tersenyum
Dan berkata: "bersyukurlah, dan bergembiralah"
Jika kaubilang, itu adalah pemberian diri
Saat gerbang kemurah-hatian menemukan kuncinya
dan membuka lebar lengan-lengan tangannya
Aku akan tersenyum dan memandanginya
Serta bergumam: 'ahh...memang berkelimpahan semestinya...'
Jika kaubilang itu hati yang berbeda, yang tengah bersua
Sementara sulur jemari jiwa saling merangkai
Aku akan tersenyum....
Aku akan bersyukur untuk itu, dan mungkin menitikkan air mata haru
Jika kaubilang bahwa itu adalah rasa sakitnya kehilangan
ketika semua yang mungkin tak lagi mampu didapatkan
Aku akan ikut menangis denganmu
dan aku akan membiarkan diri terdiam
Tapi, jangan lupakan bahwa jiwamu tak terbatas dalam ragamu
Dayamu semesti semesta,
Kaitkan pada Sang Sumber Segala
Dan semoga, pada satu noktah waktumu
Kau yakin bahwa dalam Dia
Segala ke-tiada-mungkin-an itu sirna...

Jumat, Agustus 05, 2011

KEPADA BAPA IMANKU

Sahabat,

Apakah yang kini hendak kutuliskan...

Banyak perkara...banyak perkara terasa mengunggah luka...

Ketika kehendak serasa bernyala,

Namun, hatiku terlanjur kebas jadinya

 

Ingin kubiarkan diam segala sesuatu

Sampai pilihan kujalani tanpa tutup lagi

Kucari Dia dalam setiap sudut lubuk hati

Rindu aku bertemu pada suatu waktu

 

Aku hanya mencoba,

Tak ingin mendapatkan seluruh dunia

Tapi kehilangan satu yg berharga milikku

Milik Tuhanku...

 

Di sini sekarang seluruh duniaku

Di sini segala sesuatu kupertaruhkan

Dan seakan Dia menata agar aku berhadapan dengan segala sesuatu

Juga kamu

 

Maka, kupilih hal-hal yang telah kubuat

Dalam segala bingung dirimu

Aku membuat sesuatu

Meski ketika saatnya tiba

Aku mesti menemukan bahwa luka hati adalah buahnya

 

Dan kini sosok suci seakan hadir di pelupuk hati...

 

Abram...oh Abraham...

Dimanakah letak kekuatan yang kau miliki waktu itu?

Ajarkan padaku....ajarkan padaku....

Ketika kau jaga iman sedemikian kuat...

Sementara roda kehidupan seakan hampir menggilas habis dirimu..

Abram...oh Abraham....

Ajarkan padaku...ajarkan pada hatiku...

Kamis, April 21, 2011

Putih Kaubasuh kakiku

Tuhan

Bolehkah kumohon padaMu

Biar cukup sudah segala rona kegelisahan

Tak sanggup kukatakan lagi janji itu

 

Permohonan terakhirku waktu lalu

Kuhatur lewat perantaran ibu

Ibu hatiku

Belum kulupakan itu

 

Tidak semua jalan yang kulewati bersih

Hari ini Kaupun membasuh kaki MuridMu

Moga Kaubasuh pula kakiku

Berjalan pada lembar putih baru

Bersih untuk kuisi

memuliakanMu pada jalanku