HIDUP DAN POHON SRI REJEKIKU
Sri Rejeki…….
Sri…… dan …… Rejeki……
Dua kata yang indah kutemukan dalam dirimu.
Bukankah dewi Sri yang dipuja para petani jawa melambangkan harapan, tujuan upaya dan kehidupan?
Kesuburan bagi tanah dan hasilnya, dan akhirnya sampai pada kehidupan itu sendiri, karena dapur sederhana bisa beroperasi dengan sederhana pula…
Sri… Kau menyiratkan kesuburan yang kuharapkan, dan yang nampak dalam banyak wujudmu, di belakang kamar sementaraku. Semintikenthung, Unit I, nomor dua lapan. Kamar yang kutempati ketika aku ada di tingkat IV formatioku.
Sri… hijau daunmu membuat hidupku menjadi segar, ketika pagi-setelah misa, ataupun ketika aku tidak ikut misa karena bangun kesiangan – aku berada di tengah-tengahmu. Hijaumu menawarkan padaku kekuatan untuk tumbuh dan berkembang. Kuncupmu menawarkan kesegaran harapan masa depan, indah, tak tergantikan, tak ternyanakan, namun juga pasti. Apalagi, bila dengan sabar dan tekun kusiram kau dengan air dari kran di pojok kamar-sering tanpa selang, hanya dengan punggung tangan yang kutekankan pada monyongnya, sehingga air bisa memancar.
Sri… kau bukan hanya si Sri saja. Kau bawa pula padaku harapan akan kemakmuran. Kau bawa kepadaku rejeki. Kau beri padaku maknanya.
Sri Rejeki, kauingatkan aku akan anugerah indah yang kuterima, tiap kali aku datang kepadamu. Anugerah Dia, yang seperti aku, telah juga menciptakanmu, dengan kesegaran dan ketakternyanaan serta kepastianmu. Kau tampilkan Dia kepadaku, kau gambarkan hidupku di hadapanku.
Sri Rejeki. Apapun bentukmu, bagaimanapun kuperlakukan kau, tetap, kau adalah Sri Rejeki.
Kupotong engkau, karena tumbuhmu sudah terlalu tinggi. Tapi, tumbuhlah tunas baru dari batangmu, dan pucukmu yang kutanam di lain tempat tiada mati. Kau tawarkan kepadaku tantangan untuk berkembang dan tidak mudah menyerah, bahkan ketika proses hidup mesti terpangkas, agar aku bisa memulai suatu yang baik dan baru, tanpa menjadikan mati apa yang telah aku hidupi.
Dulu aku hanya sekedar suka saja memeliharamu, karena kebetulan tersedia, mudah dirawat, serta mudah didapat. Kini, kudapati engkau menjadi alat Yang Kuasa bicara kepadaku. Terima kasih padaMu, dan engkau sri rejekiku.
Komentar
Posting Komentar